Jumat, 13 September 2013

Prof. Dr. Damardjati Supadjar



BEKERJA DALAM RANGKA BERIBADAH
Prof. Dr. Damardjati Supadjar
(Guru Besar UGM Yogyakarta)

Saya lahir pada 31 Maret 1940 di lereng Gunung Merbabu di desa Nawangsari yang pernah menjadi pasukan Pangeran Diponegoro. Belakangan baru saya ketahui bahwa saya ini keturunan prajurit Diponegoro dari pasukan Wirapati. Genap usia tujuh tahun saya mengalami aksi Polisionil I atau kalau menurut kita, Perang Kemerdekaan. Pada tahun 1947 itu saya sudah bisa membedakan mana mortir Pas Sarwo Edie Wibowo dan mana mortir Belanda. Sebab mortir Pak Sarwo Edi itu jika ditembakkan dung....siuuuuut, blek tapi nggak meledak. Namun kalau mortir Belanda ditembakkan meledak dan pecah menjadi tiga kali.
Waktu kelas 6 SD saya pernah jatuh cinta kepada anak kelas 4, namun jatuh cinta yang wajar. Jika saya ke kota saya akan membeli oleh-oleh peruncing pensil, kalau sudah dijodohkan senangnya minta ampun. Lalu ibu marah dan saya dimarahi di depan umum,’Kamu ini sekolah saja dulu’ kata Ibu. Akhirnya dari SMP, SGA hingga kuliah saya belum tergerak. Sampai akhirnya gedang kepok, gedang ijo, maune mondok malah dipek bojo. (pisang kepok pisang hijau, maunya mondok malah diambil menantu).
Sebenarnya saya masuk SGA di luar rencana saya. Mulai dari kecil, otak saya cukup encer untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Bahkan ketika masih SD, saya sempat naik kelas dua tingkat. Kemudian SMP saya dibebaskan dari biaya sekolah. Waktu selesai SMP saya bermaksud masuk SMA, namun tiba-tiba bapak bermuram durja. Saya tidak tahu sebabnya apa. Tapi suatu saat ibu saya bilang ke saya, “Nak, Ibu kok mimpi kamu jadi guru.”  Saya jawab, “Kalo jadi guru harus masuk SGA, Bu.”  Ibu menjawab tidak tahu. Ketika masuk SGA bapak ternyata senang, karena di SGA ada ikatan dinasnya.
Ketika di SGA, terus terang saya adalah pendukung PRRI Permestta. Karena tuntutannya adil, diakhirinya sentralisme Jakarta terhadap daerah. Wajar orang muda. Namun ketika muncul Dewan Gajah, Dewan Banteng pimpinan Ahmad Husen Simbolon dan minta tolong orang barat, Amerika, maka simpatik saya anjlok. Untuk urusan satu bangsa kok minta tolong orang luar. Saya kecewa berat. Namun saya tidak mau menjadi korban kekecewaan saya. Maka saya sempat menjadi Korps Pelajar Pembebasan Irian Barat di Semarang. Kami pernah apel di depan Mayjen Soeharto, komandan teritorium IV Diponegoro. Waktu itu Pak Harto masih langsing, jadi bisa dibayangkan betapa kerempengnya saya. Maka saya tidak bisa dikirim ke Irian Barat.
Ada pengalaman menarik ketika saya di Semarang. Ada seorang dokter, namanya Paryono Suryodipuro, mendirikan Akademi Metafisika. Waktu itu Bung Karno dan Bung Hatta sudah retak, maka ada tarian landshow untuk kemanunggalan presiden dan wakil presiden namun gagal.  Tiba-tiba kami mendapat giliran Pak Paryono mau cerah. Pak Paryono selain dokter juga tokoh Masyumi. Sebagai ketua keluarga di sekolah, saya mesti hati-hati, tokoh Masyumi mau ceramah. Saya bersiap mau mengatur atau merekayasa siapa yang akan bertanya dan apa yang mau ditanyakan. Begitu orangnya datang, seluruh persiapan dan mental saya berantakan. Cahaya wajahnya jernih luar biasa.
Jadi saya blangkemen, tidak bisa berucap. Ndilalahe, seluruh pertanyaan saya yang belum saya ajukan dijawabnya satu persatu. Waktu itu saya bertekad orang ini mesti saya jadikan guru. Bukunya menjiwai saya, yaitu Alam Pemikiran dan Manusia dalam Keadaan Sehat dan Sakit, Pendekatan Atom Fisika. Dalam ceramahnya Pak Paryono mengutip Serat Centini, Ensiklopedia budaya jawa. Maka ketika saya kuliah, buku-buku itu saya cari.
Sebagai ketua keluarga, kadang interlokal dan telegaram buat asrama putri bisa jatuh ke asrama putera. Dan kalau kesasar begitu yang boleh masuk asrama puteri hanya ketua keluarga. Suatu ketika ada telegram yang sangat penting yang harus saya sampaikan ke asrama puteri. Pukul setengah dua siang saya ngebel. Ketika pintu gerbang dibuka, tidak sengaja saya melihat banyak anak asrama puteri yang tengah beristirahat tiduran di ruang tengah. Saya kaget karena tidak pernah menduga. Tentu sebagai anak muda waktu itu saya merasa bahagia. Namun itu pengalaman yang menyadarkan bahwa saya harus menjaga kesucian saya.
Pengalaman itu yang menyelamatkan saya ketika pergi setahun ke Belanda. Teman saya di negeri Belanda tenggelam dalam kehidupan bebas di sana. Satu tahun itu saya tidak bersentuhan dengan wanita. Justru waktu satu tahun itu saya manfaatkan untuk mencari misteri sujud. Dan alhamdulillah hal itu saya dapatkan, yaitu ketika saya mencapai momentum dimana saya merasa tidak punya apa apa.
Selepas SGA, karena nilai saya rata-rata 7,5 maka saya diperbolehkan kuliah, namun tidak boleh mengambil jurusan ilmu pendidikan. Maka saya mengambil jurusan sastra. Setelah kuliah saya pindah ke fakultas pedagogik jurusan Psikologi. Pada tahun 1962, saya sudah tingkat doktoral di Psikologi. Saat itu sepanjang  jalan Kaliurang Yogya, seringkali terlihat orang berbaris. Saya masih ingat lagunya, majulah pasukan tentara rakyat, buruh dan tani menanti-nanti, bruk-bruk. Buruh dan tani minta dipersenjatai, mau membentuk kolone kelima. Belakangan pada tahun 1965 terjadi G30 S PKI.
Kacau balau studi saya. Karena dosen dosen pskologi waktu itu terkenal merahnya. Namun sebelum itu ada kejadian yang membuat saya terkagum-kagum pada bapak, yakni ketika saya mau menyelesaikan skripsi. Saat lebaran saya minta pamit bapak untuk ke Yogya, guna melakukan penelitian atas siaran radio Pak Cilik Njaluk Dhuwite. Sebenarnya siaran itu saya kritik, lha kok anak kecil urusannya duit. Itu nggak benar. Kedua  kok njaluk (minta), harusnya nyuwun (bahasa halus dari minta). Ternyata itu program siaran PKI untuk menyindir pemerintah yang sukanya meminta uang pada Amerika.
Saya mau meneliti hal itu, tapi bapak marah. Bahkan lebih parah dan di depan umum. “Kamu mengira hal itu bermanfaat?” ujar bapak. Macet saya, tiga hari-tiga malam saya tidak keluar kamar. Melihat saya seperti itu, bapak saya bilang “Apa Padjar mati ya?” Sehingga tahun 1965 -1968 terombang ambing. Bagaimana mengatasi hal itu, saya masuk keraton. Saya baca semua buku di dalamnya. Dan ketika terjadi peristiwa 1965 saya bersyukur karena belum lulus. Andaikata saya jadi lulus dibimbing oleh dosen saya kan merah warna saya. Alhamdulillah bapak saya lebih waspada.
Akhirnya tahun 1968 saya masuk filsafat dan mulai dari awal lagi. Pada tahun 1972 saya menetapkan untuk berkeluarga, padahal waktu itu saya belum lulus. Kemudian bersama dengan beberapa teman saya mendirikan colt kampus. Awalnya hanya tiga colt lalu menjadi 12 dan berkembang lagi menjadi 22 buah.
Karena kernet kami mahasiswa maka mereka kelihatan jenuh dari rutinitas lalu main-main. Misalnya membuat stiker dengan tulisan don’t talk but do it. Maksudnya jangan ngomong kecuali duit. Kemudian tulisan “Hari ini jauh dekat 250, besok gratis.” Ternyata ada orang Medan yang datang ke Yogya dan bilang, “Wah ternyata Yogya itu istimewa juga” Dia kasih uang seribuan dan kembaliannya dia berikan kepada kernet itu, karena ia akan membayar gratis besoknya. Oleh kernet kami ya tetap diminta, “Yang gratis kan besok bang, sekarang tetap bayar.”
Dalam berkeluarga saya mengira sudah cukup diberi 4 anak, dua putra dan dua putri. Dari dulu kalau mau diberi titipan anak yang muncul dalam kesadaran adalah nama dulu. Nah sewaktu putri keempat berumur 18 tahun, perumahan Pesona Asri akan membangun masjid. Saya diminta untuk memberi nama masjid itu. Saya bilang, “Ruhnya Islami tapi namanya jawa mau nggak?” saya rencana akan memberi nama Latu Adi (api keluhuran). Tiba-tiba panitia dari Jakarta sudah memberi nama. Namanya Al Kautsar. Lha namanya untuk siapa? Ternyata istri saya hamil lagi. Waktu itu usianya 52 tahun. Jadilah anak itulah nama anak kami yang paling kecil. Dan saya beri nama Ajar Nuhoni Latu Adi.
Dalam berhubungan dengan anak muda, saya habis-habisan untuk memberikan nasehat agar selamat meniti masa muda. Sebab, kita hidup di zaman dimana kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, wong wadon ilang wirange.  Artinya hidup jadi dangkal, kita terjebak di pasar orang (kapitalisme) dan rasa malu sudah dicabut dari wanita. Seharusnya pria tidak boleh melihat organ perempuan kok malah dipertontonkan. Jika tidak hati-hati maka tidak akan selamat meniti masa muda. Kadang kala juga salah memahami takdir. Suatu ketika saya didatangi seorang tamu puteri. Saya terkejuat, langsung bertanya “Apa betul pak Allah itu indah?” Saya jawab, “ Betul, kalau kita benar benar mengenal Allah dengan benar. Kalau kita tidak melihat secara Allah melihat, kalau kita melihat seperti Allah melihat dan bukan dengan mata. Karena ada mata keranjang, mata duitan, lama kelamaan mata raksasa, sehingga keliru melihat yang baik menjadi buruk. Jadi memang harus jernih melihat dan jangan  menyalahkan Allah”
Kemudian tamu itu  bertanya lagi, “Lho kalo Allah itu indah kenapa kok saya jelek?“ Saya jawab “Lho salah kamu” Kemudian saya tanya namanya, ternyata namanya Pujdiati. Kemudian saya bilang, “Dunia ini jika tanpa Pujdiati tidak akan lengkap” Terus ia tanya. “ Lho Pak, kalo yang jelek Pudjiati jelek terus saya ini siapa?”
Saya bilang, “Tanyakanlah kepada Allah, mintalah takdirmu. Jadi semua konsep keindahan, kebaikan, kebenaran itu ada ditangan-Nya. Yang ada di dunia ini adalah tamsil, terminal, eksemplar. Jadi kalau di dunia kita sedang kesempitan, lampauilah dengan sabar, maka kita akan mendapatkan takdir di tangan Allah. Lama kelamaan kita akan sabar syukur dalam segala ccuaca. Itulah ilmunya Nabi Daud. Berpuasa sehari dan berbuka sehari. ” Tamu itu kemudian menangis lagi tapi mengerti.
Ada anak daerah yang mau belajar sama saya. Saya mau tapi harus ada pengaman yaitu kerja. Saya bilang, “Kamu harus bisa bekerja dalam rangka beribadah. ”  Kemudian prinsipnya kalau nanti belum dapat untung mesti sabar dan syukur. Tiba-tiba tahun kelima sebelum kami pindah hasilnya satu bulan bersih bisa mencapai lebih dari 10 juta. Ini dalam rangka persiapan pesantren kerja.
Alhamdulillah hingga hari ini saya telah mempunyai beberapa program kerja. Insya Allah saya akan melaksanakan pesantren kerja, siang bekerja dan malamnya ngaji. Selain itu saya juga mendapatkan kemudahan  premium call, dengan sistem tanya jawab melalui gelombang radio. Tetapi bukan jenis premium call yang kebanyakan mesum itu. Ini konsultasi kehidupan dan agama. Bahkan kalau datang malah gratis. Insya Allah dengan ini pula kami mengundang Pusat studi internasional Aborigin di Australia yang menemukan fusi dingin, pengganti  bensin. Tapi syaratnya teknologi tingkat tinggi ini tidak boleh dimiliki atau diperjualbelikan. Itulah revolusi. Bukannya revolusi dalam konteks gaprak gapruk. Jadi kalau kita egois, itu rotasi, maka kita akan keberatan. Tapi kalau kita taqarub kepada Allah, kita berkorban. Berkorban itu bukannya Ibrahim menyembelih anaknya Ismail, namun berkorban adalah memotong rasa kepemilikannya. Kita tidak punya apa-apa, sampai punya rasa pun tidak, itu baru revolusi.
Dalam kehidupan bagi saya yang tepat itu bukan benturan al haq dan batil. Bukan karena kebenaran tanpa lawan. Jadi mesti menang dan yang gugur itu kebatilannya. Orang jawa menyebutnya hati itu ‘manah’. Agar tajam seperti anak panah. Pamenthanging gendewa, pamenthanging cipta. Pustaka lengggah wonten ing mustaka. (Terentangnya busur panah, terentangnya karya, buku itu bersemayam di kepala). Jadi ini harus identik dengan kitab suci, kuncinya adalah perbanyak sujud. Maka menurut saya, javanologi itu yang kritis. Saya javanologi tapi insya Allah Islami.
**** Sumber:  Majalah TARBAWI  Edisi 56, Bulan April 2003

 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar